Ada hal menarik beberapa saat setelah mengikuti dan membaca status maupun komen dari teman-teman di friend list Facebookku. Mereka, terutama, yang masih sekolah, sering sekali menulis berbagai macam keluhan tentang sekolah mereka. Bahkan ada beberapa tulisan yang menyebutkan bahwa sekolah adalah senacam penjara yang berisi sejuta tugas yang harus dikerjakan.. Tiada secuilpun kegembiraaan di sana. yang ada hanyalah, belajar, ulangan, PR, tes dan semacamnya.
Marilah kita lihat lebih dalam. Untuk siapa dan apa tuga s itu diberikan. Saya yakin semua bisa menjawab. Tugas-tugas itu diberikan untuk kita, sebagai upaya untuk mempersiapkan masa depan kita yang akan kita jalani. Masa depan adalah tanggung jawab kita. Tiada seorangpun yang mau mempunyai masa depan yang tak pasti. Tugas dan pengetahuan dari sekolah itulah yang menjadi bekal bagi kita untuk meraih cita-cita kita.
Jika kita sudah menyadari hal tersebut, tak sepantasnyalah kita susah atau sedih bahkan menggerutu ketika tugas dari sekolah diberikan. Ibarat kita akan piknik, kita baru mempersiapkan bekal kita. Bayangkan pantai yang indah dengan pasir putihnya. ....Bukit menghijau dengan udara yang segar...... Atau, taman bermain lengkap dengan roller coasternya. Itulah tujuan kita. Bayangkan kita sampai di sana.... Tersenyumlah..... Tertawalah...Cerialah!
Rabu, 27 Januari 2010
Kamis, 14 Januari 2010
hujan tak mengapa....
Akhir-akhir ini..sepertinya hari -hari tak pernah kering. Hujan selalu saja tercurah dari langit. Tak sedikit yang mengeluh atau bahkan mengumpat saat rinai hujan membasahi bumi. Mereka merasa bahwa hujan telah menghalangi sesuatu yang akan mereka lakukan........................
.Mari kita lebih jernih menyikapi hal ini.Pertama, bukankan lewat hujan, Allah telah memberikan rahmat dan rizqiNya bagi kita semua? Kedua, apakah dengan mengumpat, kemudian hujan akan berhenti? Bukankah jika kita mengumpat, berarti kita sedang mengkufuri nikmatNya? Ketiga, memang itulah sifat dasar manusia...tak pernah puas atas apa yang diberikan Sang Pencipta pada kita....
Buka hati kita untuk menerima anugrah Allah apa adanya...Terimalah dengan rasa syukur, apa-apa yang memang seharusnya terjadi...
.Mari kita lebih jernih menyikapi hal ini.Pertama, bukankan lewat hujan, Allah telah memberikan rahmat dan rizqiNya bagi kita semua? Kedua, apakah dengan mengumpat, kemudian hujan akan berhenti? Bukankah jika kita mengumpat, berarti kita sedang mengkufuri nikmatNya? Ketiga, memang itulah sifat dasar manusia...tak pernah puas atas apa yang diberikan Sang Pencipta pada kita....
Buka hati kita untuk menerima anugrah Allah apa adanya...Terimalah dengan rasa syukur, apa-apa yang memang seharusnya terjadi...
Selasa, 06 Oktober 2009
dengan hati
semakin kita menyelami dunia pendidikan,khususnya Sekolah Dasar, makin terbukalah mata hati kita bahwa ada hal yang mendasar harus kita lakukan jika ingin pendidikan kita tepat sasaran. Mendidik dengan hati. Itulah yang harus kita utamakan dalam mentransfer ilmu poengetahuan kepada siswa kita. Mendidik dengan hati menjadikan kita berempati dan bersimpati atas masalah yang dihadapi oleh siswa kita. Kita menjadi lebih sabar dalam menghadapi problem siswa yang tentu saja tak kalah banyaknya dengan problem kita sendiri. Termasuk pula tak terburu-buru menjatuh kan kesalahan pada mereka. Kita bisa melihat latar belakang kenapa kesalahan terjadi dan mencarikan solusi yang mendidik untuk mereka.
Senin, 14 September 2009
metode pembelajaran
sebuah kelas yang jenuh sangat menyulitkan bagi siswa maupun guru untuk mentransfer ilmu. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengatasi kelas seperti itu..Misalnya dengan meggunakan permainan yang saya sebut...LET'S GO SHOPPING...dengan cara ini..siswa diajak untuk saling bertukar pengetahuan di antara mereka. Atau istilahnya..peer teaching. Alat yang digunakan pun cukup sederhana...kertas dan gunting. Dalam metode ini akn di kenal istilah 'buyer' (pembeli ) dan trader(penjual). Singkatnya...seorang pembeli harus membeli sebanyak-banyaknya barang yang dijual. Adapun harga dan uangnya adalah kertas yang bertuliskan soal dan kertas yang bertuliskan jawaban. Barang diberikan jika antara soal dan jawaban berkesesuaian. Akhir pelajaran, untuk pembeli terbanyak dan juga penjual terbanyak, diberikan reward.
Label:
buyer,
gunting,
jawaban,
kelas,
kertas,
metode belajar,
peer teaching,
pembelajaran,
reward,
shopping,
soal,
trader
Rabu, 09 September 2009
guru harus kreatif
Seorang guru, di level manapun ia mengajar....tak boleh meninggalkan hal ini.KREATIFITAS. Ini adalah kata yang cukup penting mengingat, hal inilah yang bisa menjadi kunci bagi seorang guru untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa-siswanya. Sering kali, sebuah kelas yang jenuh, harus "diledakkan". Hal ini untuk membangkitkan kembali semangat belajar para siswa, sekaligus memberikan efek penyegaran pada mereka. Sebuah hal yang di luar kebiasaan yang telah berlangsung,akan segera memberi efek beda. Hal ini dapat membuat memori siswa menyimpan dengan cepat dan lama sesuatu yang beda tersebut.
Kreatifitas dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Pengubahan warna suara, gaya bicara, metode pembelajaran atau bahkan dengan bentuk permainan. Untuk itulah guru perlu juga berlatih dan belajar sesuatu yang lain dari biasanya. Sehingga pada penerapannya nanti sudah tak canggung lagi...
Kreatifitas dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Pengubahan warna suara, gaya bicara, metode pembelajaran atau bahkan dengan bentuk permainan. Untuk itulah guru perlu juga berlatih dan belajar sesuatu yang lain dari biasanya. Sehingga pada penerapannya nanti sudah tak canggung lagi...
Label:
guru,
ilmu pengetahuan,
kelas,
kreatif,
metode belajar,
siswa
Minggu, 06 September 2009
menjadi guru yang baik.
Ada pergeseran paradigma tentang seorang guru. Dulu, guru adalah pusat dari pengajaran, seseorang yang tahu segalanya dan pasti lebih tahu dari muridnya.
Seiring perkembangan jaman,paradigma itu telah bergeser. Kini guru hanyalah sebagai fasilitator untuk siswa-siswanya. Ia bertugas untuk menghubungkan antara materi pelajaran dengan siswa. Ia juga tak bisa lagi mengharuskan siswa-siswanya untuk mempercayai segala yang ia katakan. Ia hanya bertugas mengumpulkan semua data tentang materi suatu pelajaran, merangsang siswa-siswanya untuk berpendapat dan akhirnya bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi tersebut. Disinilah guru harus mempunyai wawasan yang luas dan terbuka pada perbedaan serta mengerti perubahan yang terjadi di dunia.
Seiring perkembangan jaman,paradigma itu telah bergeser. Kini guru hanyalah sebagai fasilitator untuk siswa-siswanya. Ia bertugas untuk menghubungkan antara materi pelajaran dengan siswa. Ia juga tak bisa lagi mengharuskan siswa-siswanya untuk mempercayai segala yang ia katakan. Ia hanya bertugas mengumpulkan semua data tentang materi suatu pelajaran, merangsang siswa-siswanya untuk berpendapat dan akhirnya bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi tersebut. Disinilah guru harus mempunyai wawasan yang luas dan terbuka pada perbedaan serta mengerti perubahan yang terjadi di dunia.
Rabu, 25 Februari 2009
jadi guru sd
Kadang-kadang kalo dipikir en dinalar serta dilogika, jadi guru tuh banyak gak enaknya. Apalagi guru SD swasta yang letaknya di desa. Buat sementara orang, guru kayak gini nih pastinya susah. Udah murid-muridnya ndeso, sekolahnya reyot mau ambruk, gajinya pasti kecil lagi. Pokoknya bagi banyak orang, profesi guru yang kayak gini jadi pilihan terakhir buat kerja.
Tapi, buat aku dan juga beberapa teman kerjaku, persepsi seperti itu gak berlaku. Soalnya meskipun sekolah kita di ndeso, kita punya kepedulian yang tinggi buat memajukan sekolah tempat kita kerja agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah yang udah maju. Di sekolahku,SD Muhammadiyah Gunungpring, anak-anak diajak untuk berpikiran jauh maju ke depan. Berbagai jalan telah ditempuh, berbagai metode telah diaplikasikan. Semua ditujukan agar sekolah ini Think globally, act locally. Dengan demikian meskipun sekolah ini menjadi sekolah yang maju, namun tidak tercerabut dari akarnya. Baik itu pijakan moral maupun dasar religiusitas yang menjadi landasan berdirinya sekolah ini.
Dengan pemikiran itulah sekolah membuka wawasan para guru untuk berpikir kreatif. Tidak saja untuk kepentingan belajar mengajar, namun juga untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa sekolah ini adalah sekolah yang dinamis daya kreatinya. Beberapa hal yang menunjukkan hal ini mudah disebutkan. Milad SD Muhammadiyah tidak hanya diisi kegiatan yang sifatnya hiburan en hura-hura, namun selalu diiringi dengan kegiatan bakti sosial untuk masyarakat. Pembuatan Film indie oleh Ekstra teater juga merupakan contoh lain. Setidaknya 3 film indie yang sebagian besar pemeran utamanya anak-anak telah diproduksi.masih ada beberapa contoh ide kreatif yang dapat kita sebutkaqn untuk menunjukkan bahwa menjadi guru tidak harus kehilangan daya kreatif. Itu semua dapat dilakukan jika seluruh komponen sekolah mendukung proses tersebut.
Tapi, buat aku dan juga beberapa teman kerjaku, persepsi seperti itu gak berlaku. Soalnya meskipun sekolah kita di ndeso, kita punya kepedulian yang tinggi buat memajukan sekolah tempat kita kerja agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah yang udah maju. Di sekolahku,SD Muhammadiyah Gunungpring, anak-anak diajak untuk berpikiran jauh maju ke depan. Berbagai jalan telah ditempuh, berbagai metode telah diaplikasikan. Semua ditujukan agar sekolah ini Think globally, act locally. Dengan demikian meskipun sekolah ini menjadi sekolah yang maju, namun tidak tercerabut dari akarnya. Baik itu pijakan moral maupun dasar religiusitas yang menjadi landasan berdirinya sekolah ini.
Dengan pemikiran itulah sekolah membuka wawasan para guru untuk berpikir kreatif. Tidak saja untuk kepentingan belajar mengajar, namun juga untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa sekolah ini adalah sekolah yang dinamis daya kreatinya. Beberapa hal yang menunjukkan hal ini mudah disebutkan. Milad SD Muhammadiyah tidak hanya diisi kegiatan yang sifatnya hiburan en hura-hura, namun selalu diiringi dengan kegiatan bakti sosial untuk masyarakat. Pembuatan Film indie oleh Ekstra teater juga merupakan contoh lain. Setidaknya 3 film indie yang sebagian besar pemeran utamanya anak-anak telah diproduksi.masih ada beberapa contoh ide kreatif yang dapat kita sebutkaqn untuk menunjukkan bahwa menjadi guru tidak harus kehilangan daya kreatif. Itu semua dapat dilakukan jika seluruh komponen sekolah mendukung proses tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
